Mungkinkah Masih Ada Waktu Yang Tersisa Untuk KU, Mungkinkah Masih Ada SULUNG di Hapemu...

Kamis, 28 November 2013

PENTINGKAH SEKOLAH..???????

PENTINGKAH SEKOLAH??? (By: Deddy Corbuzier)

Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah tersebut, karna setelah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas disampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih pro ke murid daripada ke sekolah tersebut.

Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini ke anda supaya anda dapat mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman suara saya.

Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, “penting”. Ok?
Jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampe ke sana larinya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu penting,, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah; terutama, di Indonesia.

Mengapa?

Begini saja... Anda pasti tau bahwa banyak sekali anak2 yang jelek nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja, menjadi pegawai biasa. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Karna masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah?
Menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi guru.

Jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainnya.
Anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, guru matematika. Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau nilainya jelek.. Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa olahraga dengan nilai baik.



Lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua nilainya baik. Aneh kan???
Kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua murid harus menguasai semua mata pelajaran.

Ya, mungkin untuk dasar, katanya.
Tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang diberikan pada saat dia kecil. Iya tidak???



Karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala hal, begitu juga murid2.
Murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik. Banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika dewasa.

Contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal tersebut.
Atau, menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota, yang sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali.


Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut. Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya lupa, guru akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek.
“Kalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi orang sukses.”
O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang bekerja pada saya. Itu adalah fakta..


Sekarang, begini sajalah, apa sih yang harus dirubah? Sekolahnya?

Mungkin sistemnya.
Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. Lalu kita bagi kelasnya. Kalau anak tersebut suka matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak.


Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka, harus bisa dan harus hafal. Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan.



Kenapa?
Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal.
Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik, tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah, menghafal peta buta, dan sebagainya.Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai.

Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD, anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar anaknya.

Lalu bagaimana merubah itu semua???
Memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. Butuh tahunan untuk merubah itu.
Saya harap satu saat bisa. Tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini orangtua, dengarkan ini baik2.
Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja.


Kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil nanti kedepanya.
Bagaimana caranya?

Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa yang harus di lesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru matematika untuk memberi les tambahan matematika?
Tidak perlu kan? Kenapa tidak dilesi sesuatu yang memang anak itu suka! Kalau anak saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus, saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah mulai dikembangkan sejak kecil.Bukan memaksakan hal yang memang mereka tidak suka.

Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas.

Ya, kalo pelajaran2 seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu sepuluh.

ingat! nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda, nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda rengking satu di kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika anda dewasa, sama sekali tidak berhubungan menurut saya.


Kuncinya adalah orangtua di sini. Orangtua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung pelajaran yang baik...
Jangan memaksakan terhadap anak dari yang asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau sepuluh, tidak penting!

Tidak perlu takut untuk mendapatkan nilai jelek!
Tidak perlu takut untuk tidak naik kelas!
Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur!

Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas, justru itu yang hancur masa depannya.
Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali.
Orangtua saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa seperti itu.

Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka.

Ingat sekali lagi bahwa,

Masa depan anda tidak tergantung pada pintar tidaknya anda di sekolah
Masa depan anda tidak tergantung pada anda naik kelas atau tidak naik kelas
Masa depan anda juga tidak tergantung dari nilai rapor anda.
Masa depan anda sebenarnya tergantung pada kemampuan anda bersosialisasi,
Masa depan anda tergantung pada cara dan sikap anda dalam menambah pengetahuan anda setiap harinya dari mana saja. Dari majalah, dari internet, bari buku, dari cerita dari pengalaman2 orang, dari mana saja yang anda sukai.

Saya punya teman yang waktu kecilnya dikenal jelek karna suka main game, dan sekarang, dia menjadi pemilik toko game terbesar di Indonesia. Kaya raya.

Masa depan anda, tidak tergantung dari nilai sekolah anda.
Masa depan anda, ada di tangan anda.
Jangan takut untuk mendapatkan merah di sekolah anda.
Kadang2, merah artinya sukses, untuk masa depan anda.

(Saya Deddy Corbuzier)

Jumat, 22 November 2013

Hegemoni Ilmu Pengetahuan

NOTULENSI DISKUSI I
JUDUL : Hegemoni Ilmu Pengetahuan (tulisan Prof. Hariadi
Kartodihardjo dalam buku KEMBALI KE JALAN LURUS Kritik
Penggunaan Ilmu dan Praktek Kehutanan Indonesia)
Moderator : Nardi Norman Najib
MC : Erfanda irawan
Notulensi : Dyah Ayu Putri P.
Pengantar : Mutiono
“Hegemoni Ilmu Pengetahuan”
Selama ini yang sering kita dengar dan kita mengerti adalah Ilmu pengetahuan disebut Pelita Kehidupan, dimana ilmu sangat penting untuk kepentingan manusia dalam menjalani kehidupannya sehingga orang jarang sekali ada yang mencoba mengkritik ilmu. Hegemoni sendiri adalah frame atau kerangka yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang sudah ditentukan sama seperti halnya hipnotis. Hegemoni sendiri berasal dari kata Yunani yaitu hegeisthai yang artinya menguasai, bahwa kekuasaan yang dilakukan untuk menguasai rakyat agar patuh kepada penguasa dan melaksanakan sesuatu sesuai yang sudah ditentukan oleh penguasa. Hal inilah yang kemudian merasuk pada pengelolaan kehutanan selama ini bahwa pengelolaan hutan dilakukan dengan hal-hal yang sudah ditentukan yang nyata-nyatanya terus menerus membuat hutan kita rusak namun masih dianut saja. Seperti pepatah dari Mahatma Gandhi “Kesalahan tidak menjadi kebenaran karena propagandha yang berulang-ulang, namun kebenaran tidak menjadi kesalahan jika tidak ada yang melihatnya”. Penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki harusnya bisa dijadikan sebagai indicator berhasil atau tidaknya pengelolaan hutan. Namun selama ini belum ada kritikan terhadap ilmu pengetahuan kehutanan yang sudah didapatkan yang nyata-nyata selama 40 tahun terakhir terus membuat hutan alam kita berkurang drastis. Budaya menggugat ilmu pengetahuan ini jarang sekali ditanamkan kepada masyarakat.
Ada beberapa factor tentang penguasaan ilmu pengetahuan, yaitu :
Ilmu dianggap netral.
Ilmu dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, dimana ilmu tersebut tidak berpihak kepada apapun dan hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang. Padahal jika kita coba telisik lagi sebagai contoh penggunaan teknologi pemanenan. Sepertinya teknik ini sudah hal yang pasti dan benar, namun apakah ilmu ini netral?bisakah semua orang menggunakannya?ataukah hanya orang yang bermodal besar saja yang bisa menggunakannya?inilah yang kemudian kita perlu menggugat kenetrala ilmu. Siapa yang bisa menggunakan ilmu-ilmu yang ada??
Ilmu banyak diwujudkan dalam bentuk “narasi kebijakan”.
Narasi kebijakan ini dapat berwujud isu, tulisan dll. Yang bisa saja dipakai oleh para pemegang kepentingan untuk menyalurkan otoritas mereka. Orang yang memiliki kekuasaan atau dipercaya memiliki ilmu, bisa saja memihak dengan menggunkan ilmu tersebut. Contoh gampang adalah peraturan perundangan. Peraturan perundangan kita banyak sekali namun yang bisa memahami dengan baik dan menggunakannya adalah para pengusaha dan penguasa, sedang masyarakat?bahkan tidak paham dan tidak tahu sama sekali makna dari peraturan perundangan yang ada. Izin2 HKm, HD, HTR disamakan dengan izin2 skala besar, apakah ini adil dan netral?masyarakat yang tidak paham administrasi, tulis menulis, akses, dll harus mengurus izin sama dengan para pengusaha skala besar yang dapat melakukan itu dengan mudah. Makanya pengelolaan hutan skala rakyat yang dicanangkan oleh pemerintah tak berkembang dengan baik.
Sumber ilmu pengetahuan bersifat baku dan kaku.
Pada kondisi ini ilmu dirasa lebih kaku dan harus diiikuti, orang akan mengikuti darimana ilmu itu diperoleh. Bahkan orang yang kemudian tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di mana dia menuntut ilmu akan dianggap sebagai penghianat. Orang yang berasal dari teknik maka akan cenderung menyelesaikan masalah yang ada dari ilmu teknik yang dia pelajari.
Terlalu focus pada ilmu yang sudah didapatkan.
Artinya pihak yang sudah memilikui ilmu pengetahuan cenderung tidak mencari ilmu lainnya. Padahal menyelesaikan permasalahan tidak bisa dilakukan secara sendiri2 namun dengan berbagai transdisiplin ilmu jadi tidak cukup kehutanan diselesaikan dengan satu ilmu saja, silvikulturkah saja, konservasikah saja, manajemenkah saja, teknologikah saja, namun harus semuanya digunakan dalam memandang permasalahan (holistik)
Dari keempat factor tersebut dalam diskusi yang dilaksanakan ada beberapa tanggapan dengan apa yang sudah dituliskan tersebut. Ada beberapa keadaan memperlihatkan bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah tidak bisa dengan satu ilmu pengetahuan saja. Ilmu memang tidak seluruhnya benar, penting bahwa harus mempelajari ilmu pengetahuan yang lain untuk mendukung ilmu yang sudah didapatkan. Ada tanggapan bahwa ilmu merupakan pengakuan yang tergantung terhadap kesepakatan yang sudah dibangun jika memang tidak ada yang menggugat. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh manusia supaya dapat menggugat ilmu yang sudah ada dan tidak berpikir secara linier saja tetapi berpikir secara lateral. Seperti yang terjadi pada rimbawan masa kini bahwa masih banyak yang tidak berani menggugat ilmu serta masih terlalu terpatok pada ilmu yang dimiliki seseorang. Contohnya, Dosen yang sudah professional membuat para mahasiswa terpaku dan seakan memaksakan ilmu yang sudah dimilikinya adalah yang benar. Hal ini bisa dikatakan bahwa mahasiswa telah terhegemoni dengan dosen tersebut.
Berdampak pada pola pikir mahasiswa tentang ilmu untuk berkembang. Bahaya jika ilmu tersebut digunakan untuk penguasaan atau untuk mendapatkan kekuasaan karena merasa bahwa sudah memiliki ilmu yang tinggi. Orang yang berilmu akan cenderung merasa lebih bisa, nah level selanjutnya dari penyalahgunaan ilmu adalah ketika dia mencoba meguasai dan mengendalikan orang lain dengan ilmu yang dia miliki, mencoba meminta orang lain untuk menyelesaikan masalah dengan ilmu yang dia miliki tanpa memperhatikan aspek lain dan ilmu yang lain. Ada tanggapan bahwa dalam hal ini tergantung bagaimana cara menempatkan ilmu pengethauan dan yang mengolah ilmu pengetahauan tersebut atau mengkajinya sektor-sektor yang lain.
Dapat dilihat saat penetapan kebijakan dalam pemerintahan (Kemenhut), jika penguasa tidak mempunyai ilmu yang holistik, maka akan dapat terhegemoni oleh ilmu para staf ahli yang memiliki ilmu dan percaya saja dengan apa yang disampaikan oleh para staf ahlinya. dalam hal ini, hegemoni ilmu pengetahuan dapat berjalan dengan kondisi tersebut.
Ada pertanyaan lain tentang ilmu pengetahuan yang baku misalkan rumus yang sudah dibuat dari dahulu. Ketika rumus dibuat mengalami proses yang panjang dan tidak mudah. Namun dari waktu ke waktu rumus ini sebenarnya mengalami perubahan. Kita boleh menggunnakan rumus lain dengan teknik yang berbeda to, namun hasil yang diperoleh juga sama dengan jika kita menggunakan rumus tersebut. Itulah hegemoni, jika kita dipaksakan harus menggunakan rumus yang sama. Padahal kita bisa menggunakan rumus yang lain dengan hasil yang sama.
Dari hasil diskusi kali ini diperoleh bahwa sebelum menggugat pelajari dan lakukanlah serta gunakan pikiranmu untuk menemukan keyakinanmu. Tentang hegemoni ilmu pengetahuan ini memang tergantung pola pikir yang ada pada pribadi masing-masing. Serta jangan hanya puas dengan ilmu yang sudah diperoleh karena ilmu itu dinamis. Masalah kehutanan tidaklah bisa diselesaikan dengan satu bidang ilmu saja. Syarat harus ada ilmu silvikultur, ada ilmu pemanenan, ada ilmu manajemen, ada ilmu konservasi, namun belum cukup itu untuk menyelesaikan masalah kehutanan sehingga transdisiplin ilmu/memandang secara holistik sangat penting. Janganlah egosektoral ilmu dengan memastikan ilmu saya yang paling baik dan paling benar. Karna niscaya itulah yang menyumbang kerusakan hutan kita.
~SEKIAN~

Senin, 04 November 2013

Birthday Case

http://www.youtube.com/v/hSxn9h-icRU?autohide=1&version=3&showinfo=1&attribution_tag=JAi5coBqmDXqQlqE7gQTbA&autohide=1&feature=share&autoplay=1

Senin, 07 Oktober 2013

PENTINGNYA BERORGANISASI BAGI MAHASISWA

Apa Tujuan Anda Kuliah ??

Mencari GELAR ???
Mencari JODOH ???
IPK Oriented ???


Kuliah merupakan anugerah yang sangat patut kita syukuri, karena banyak di luar sana yang berkemauan untuk kuliah, tetapi tidak bisa, disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya keuangan.
BERSYUKURLAH ANDA !!!


Oleh karena itu manfaatkan sarana kuliah ini untuk melatih softskill anda selain hardskill ( akademik ) anda..

Mengapa ??
Dalam Zaman Globalisasi ini, seseorang sekarang dituntut untuk mempunyai keahlian - keahlian dalam berkomunikasi, bekerja sama, percaya diri, bertanggung jawab, dan lain-lain.
GLOBALISASI >>> Capital, Language, Networking, Knowledge..

Dimanakah Anda Menemukan Itu Semua ??
ORGANISASI !!
Itulah jawabannya..

Menurut Hasil Survey dari berbagai lembaga, IPK merupakan no.17 dari 20 kriteria kualitas seorang mahasiswa.
Bukan berarti kita menyampingkan IPK, lebih baik lagi jika anda aktif dalam organisasi dan IPK anda juga bagus..


Jika anda setelah lulus nanti dan ikut wawancara / interview pekerjaan. Hal - hal yang sering ditanyakan itu ialah :
"Apakah pengalaman organisasai anda ??"
"Kemampuan apa dalam diri anda yang dapat anda banggakan ??"
"Aktifkah anda dalam organisasi anda ??"


Dan jarang ditanyakan "Berapakah IPK anda ??"


Menurut Patrick S O'Brien, Winning Characteristic terdiri dari
C O L L E G E

Communication Skill
Organizational Skill
Leadership
Logic
Effort
Group Skills
Ethics



Manajemen organisasi terdiri dari :

Planning >>> titik awal, mendasar, penting, dan menentukan arah

Rencana yang gagal sama saja dengan Merencanakan sebuah kegagalan

Organizing

Disinilah kita dilatih tentang management profile, management time, management system yang nantinya sangat bermanfaat bagi kita..

Actuating >>> terdiri dari internalis, aktualisasi, dan eksistensi


Controlling >>> Input > Proses > Output



Apa Manfaat Aktif Dalam Organisasi ??

Dapat memanajemen waktu maupun orang lain

Orang yang aktif dalam organisasi akan menyibukkan dirinya, sehingga secara alami dia akan terbiasa untuk memanajemen waktunya. "Orang sibuk lah yang pandai dalam memanajemen waktu"
Ada sebuah kata bijak mengatakan.. "Berilah amanah kepada orang yang sibuk"
Jadi gak ada ruginya anda berorganisasi, malahan anda dapat lebih menghargai waktu, dan dapat lebih baik dalam menggunakan waktu tersebut untuk belajar..

Hidup produktif

Jika anda berorganisasi, waktu anda akan selalu terisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dan akan jarang waktu anda terbuang sia-sia.

Upgrrade softskill

Softskill merupakan hal yang sangat dibutuhkan sekarang ini dalam menyambut zaman globalisasi saat ini.

Jaringan Luas ( Gaul )

Orang yang berorganisasi senantiasa terhubung dengan orang - orang baru, mempunyai keluarga baru. Sekarang ini jaringan merupakan hal penting yang dibutuhkan seseorang. Jika anda membutuhkan sesuatu, maka senantiasa ada orang yang akan menolong anda.

Populer


Gak ada yang bisa memungkiri manfaat ini, sewaktu sekolah, siapa yang gak kenal dengan yang namanya Ketua OSIS, atau dalam kuliah, siapa yang gak kenal dengan Ketua BEM, ketua MM dan pengurusnya...


Dekat dengan mahasiswa, dosen, Puket, Yayasan,

Organisasi merupakan salah satu cara dalam mendekati dosen. Dosen selalu mempunyai banyak proyek, seperti penelitian. Dan dosen biasanya selalu mencari dan memilih mahasiswa yang aktif dalam organisasi.

"Jadi Kalo memang Lo semua mengaku Kader KSMP.. Berorganisasilah.. dengan Sikap - sikap yang Kritis,, Guna menuangkan Ide-ide yang Inovatif sampai akhirnya tercipta Pribadi yang Progresif."

SULUNG

Minggu, 06 Oktober 2013

PENGANTAR FILSAFAT



Ada yang mengira bahwa filsafat itu sesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh, tak berguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar lelucon yang tak bermakna atau omong kosong. Selain itu ada pula yang mengira bahwa filsafat itu merupakan kombinasi dari astrologi, psikologi dan teologi. Filsafat bukanlah semua itu.

Oxford Pocket Dictionary mengartikan filsafat sebagai use of reason and argument in seeking truth and knowledge of reality. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan filsafat sebagai:
1. pengetahuan dan penyedilikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, dan hukumnya;
2. teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan;
3. ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi;
4. falsafah.

Menurut Kamus Filsafat, filsafat merupakan (Bagus, 2000: 242):
1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan penyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu manusia melihat apa yang dikatakan dan untuk mengatakan apa yang dilihat.

Secara etimologi atau asal kata, kata "filsafat" berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berbunyi philosophia. Kata philophia ini merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti kekasih atau sahabat, dan kata sophia yang berarti kearifan atau kebijaksanaan, tetapi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan. Jadi secara etimologi, philosophia berarti kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan.

Agar bisa menjadi kekasih atau sahabat, seseorang haruslah mengenal dekat dan akrab dengan seseorang atau sesuatu yang ingin dijadikan kekasih atau sahabat tersebut. Dan ini hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut senantiasa terus-menerus berupaya untuk mengenalnya secara dalam dan menyeluruh. Dengan harapan bahwa upaya yang terus-menerus itu dapat membawa seseorang atau sesuatu itu pada kedekatan yang akrab sehingga dapat mengasihinya.

Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut disebut filsuf. Filsuf adalah seseorang yang mendalami filsafat dan berusaha memahami dan menyelidikinya secara konsisten dan mendalam. Konsisten artinya bahwa seseorang tersebut terus menerus menggeluti filsafat. Mendalam berarti bahwa ia benar-benar berusaha mempelajari, memahami, menyelidiki, meneliti filsafat.

Tadi dikatakan bahwa filsafat adalah kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan, jadi karena ia merupakan kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan, maka filsafat memiliki hasrat untuk selalu ingin dekat, ingin akrab, ingin mengasihi kearifan/ kebjaksanaan/ pengetahuan. Tapi, kearifan/ kebijaksanaan/ pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat abstrak dan luas. Keabstrakan dan keluasan ini menjadikan hasrat yang dimiliki filsafat tersebut tak mudah untuk dipuaskan sepenuhnya. Ini menyebabkan filsafat terus-menerus melakukan usaha untuk memenuhinya. Usaha yang terus menerus ini membuat filsafat, pada satu sisi, dikenal tak lebih dari sebagai sebuah usaha atau suatu upaya.

Selain sebagai sebuah usaha atau suatu upaya, William James, seorang filsuf dari Amerika, melihat bahwa berpikir juga merupakan sisi lain dari filsafat. Menurutnya, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. Artinya, bahwa segala upaya yang dilakukan oleh filsafat tak dapat dilepaskan dari tujuannya untuk meraih kejelasan dan keterangan dalam berpikir. Jadi, berpikir adalah sisi lain yang dimiliki filsafat.

Ihwal pentingnya keberadaan berpikir dalam filsafat, Thomas Nagel dalam Philosophy: Basic Reading mengatakan (1987: 3):

Philosophy is different from science and from mathematics. Unlike science doesn't rely on experiments or observation, but only on thought. And unlike mathematics it has no formal methods of proof. It is done just by asking questions, arguing, trying out ideas and thinking of possible arguments against them, and wondering how our concepts really work.

Bagi manusia, berpikir adalah hal yang sangat melekat. Manusia, merujuk pada Aritoteles, adalah animal rationale atau mahluk berpikir. Tidak seperti mahluk-mahluk lainnya, oleh Tuhan manusia diberi anugerah yang sangat istemewa yakni akal. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengatasi dan memecahkan segala permasalahan yang dihadapinya pikirannya. Karena filsafat mengandaikan adanya kerja pikiran, maka sifat pertama yang terdapat dalam berpikir secara filsafat adalah rasional.

Rasional berarti bahwa segala yang dipikirkannya berpusar pada akal. Tapi, tidak semua aktivitas berpikir manusia dapat dikatakan berpikir secara filsafat. Untuk dapat dikatakan bahwa satu aktivitas berpikir itu merupakan berpikir secara filsafat, aktivitas berpikir itu haruslah bersifat metodis.

Secara umum, berpikir metodis berarti berpikir dengan cara tertentu yang teratur. Dalam membeberkan pikiran-pikirannya, filsafat senantiasa menggunakan cara tertentu yang teratur. Keteraturan ini membuat pikiran-pikiran yang dibeberkan oleh filsafat menjadi jelas dan terang. Tapi agar cara tertentu itu dapat teratur, filsafat membutuhkan faktor lain, yakni sistem.

Sebagai sebuah sistem, filsafat suatu susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Adanya sistem membuat satu cara berpikir tertentu yang teratur tetap pada keteraturannya. Oleh karena itu, selain berpikir metodis filsafat juga memiliki sifat berpikir sistematis.
Berpikir secara sistematis memiliki pengertian, bahwa aktivitas berpikir tersebut haruslah mengikuti cara tertentu yang teratur, yang dilakukan menurut satu aturan tertentu, runtut dan bertahap, serta hasilnya dituliskan mengikuti satu aturan tertentu pula tersusun menurut satu pola yang tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Jadi, agar dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut sedang berpikir secara filsafat, ia haruslah berpikir menurut atau mengikuti satu aturan tertentu yang runut dan bertahap dan tidak acak atau sembarangan.

Sistematis mengandaikan adanya keruntutan. Jadi, berpikir filsafat atau berpikir filsafati juga memiliki sifat runtut atau koheren. Koheren berarti bertalian. Ia merupakan kesesuaian yang logis. Dalam koherensi, hubungan yang terjadi karena adanya gagasan yang sama. Pada berpikir filsafat, koherensi berarti tidak adanya loncatan-loncatan, kekacauan-kekacauan, dan berbagai kontradiksi. Dalam koherensi, tidak boleh ada pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Contoh:

Hujan turun
Tidak benar bahwa hujan turun

Pernyataan yang pertama yang berbunyi "Hujan turun" bertentangan dengan pernyataan yang kedua, "Tidak benar bahwa hujan turun,", begitu juga sebaliknya. Dalam berpikir secara koherensi hal ini tidak dibenarkan. Karena kedua pernyataan ini saling bertentangan. Jadi, dalam berpikir secara koherensi, pernyataan-pernyataan yang ada haruslah saling mendukung.

Agar dapat memperoleh pernyataan-pernyataan yang mendukung, filasafat haruslah mencari, mendapatkan, memeriksa, ataupun menyelidiki keseluruhan pernyataan yang ada. Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Usaha ini membawa filsafat pada penyelidikan terhadap keseluruhan. Jadi, sifat berpikir filsafat yang berikutnya adalah keseluruhan atau komprehensif dalam artian bahwa segala sesuatu berada dalam jangkauannya.

Tadi dikatakan bahwa berpikir filsafat memiliki sifat koherensi, maka agar koherensi dapat terjadi, seorang filsuf atau seseorang yang sedang mempelajari dan mendalami filsafat haruslah mampu memahami dan memilah pernyataan-pernyataan yang ada. Agar dapat mencapai hal tersebut, dibutuhkan apa yang dinamakan berpikir kritis Jadi, kritis adalah sifat berpikir filsafat yang berikutnya.

Kritis dapat dipahami dalam artian bahwa tidak menerima sesuatu begitu saja. Secara spesifik, berpikir kritis secara filsafat adalah berpikir secara terbuka terhadap segala kemungkinan, dialektis, tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang ada, dan selalu hati-hati serta waspada terhadap berbagai kemungkinan kebekuan pikiran.

Untuk mencapai berpikir kritis, hal yang harus dilakukan adalah berpikir secara skeptis. Skeptis berbeda dengan sinis. Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Sedangkan sinis adalah sikap yang berdasar pada ketidakpercayaan. Secara metaforis, sikap sinis dapat digambarkan seperti seorang laki-laki di tengah perempuan-perempuan cantik, tapi dia malah mencari seekor kambing yang paling buruk. Jadi, pada intinya, sikap skpetis itu adalah meragukan, sementara sikap sinis adalah ketidakpercayaan.

Tadi telah dipaparkan di atas, bahwa filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Agar dapat meraih hal tersebut, filsafat harus menemukan radix (akar) dunia seluruhnya tersebut. Jadi berpikir radikal adalah sifat berpikir filsafat yang berikutnya.

Usaha menemukan akar dunia seluruhnya ini sangat diperlukan. Karena dengan penemuan akarnya, diharapkan, setiap persoalan ataupun permasalahan-permasalahan yang bertumbuhan di atasnya dapat disingkap. Untuk dapat menemukan akar tersebut, seorang filsuf atau seseorang yang sedang mempelajari dan mendalami filsafat perlu untuk berpikir secara radikal. Berpikir radikal merupakan cara berpikir yang tidak pernah terpaku hanya pada satu fenomena suatu entitas tertentu, dan tidak pernah berhenti hanya pada satu wujud tertentu.

Sampai di sini, kiranya, kita telah mengetahui mengapa filsafat itu bukan sesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh, tak berguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar lelucon yang tak bermakna atau omong kosong.

II. Objek Filsafat

Setiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang menjadi lapangan penyelidikan atau lapangan studinya. Objek ini diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang, metode, dan sistem tertentu. Adanya objek menjadikan setiap ilmu pengetahuan berbeda antara satu dengan lainnya. Objek ilmu pengetahuan terdiri dari objek materi dan objek forma.

Objek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian keilmuan. Ia bisa berupa apa saja, baik apakah itu benda-benda material ataupun benda-benda non material. Ia tidak terbatas pada apakah hanya ada di dalam kenyataan konkret, seperti manusia ataupun alam semesta, ataukah hanya di dalam realitas abstrak, seperti Tuhan atau sesuatu yang bersifat Ilahiah lainnya. Sementara objek forma adalah cara pandang tertentu, atau sudut pandang tertentu yang dimiliki serta yang menentukan satu macam ilmu.

Seperti halnya ilmu pengetahuan pada umumnya, filsafat juga memiliki objek yang menjadi lapangan penyelidikan atau lapangan studinya yang terdiri dari objek materia dan objek forma.

Bagi Plato (+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagi Aritoteles (+ 384-322 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri ada selaku ada" (being as being) atau "peri ada sebagaimana adanya" (being as such). Dari dua pernyataan tersebut, dapatlah diketahui bahwa "ada" merupakan objek materia dari filsafat. Karena filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri, maka "ada" di sini meliputi segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mungkin ada atau seluruh ada.

Penempatan segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mugkin ada atau seluruh ada sebagai objek materia dari filsafat, membuat filsafat berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti sastra, bahasa, politik, sosiologi, dsb. Jika ilmu-ilmu pengetahuan lainnya hanya menempatkan satu bidang dari kenyataan sebagai objek materianya, filsafat, karena berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri, menempatkan seluruh kenyataan sebagai objek materia studinya. Jadi, secara singkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat holistik atau keseluruhan, sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat fragmental atau bagian-bagian.

Tadi telah dipaparkan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada, maka untuk mencapai hal tersebut filsafat senantiasa berusaha mencari keterangan yang sedalam-dalamnya atas segala sesuatu. Jadi, mencari keterangan sedalam-dalamnya merupakan objek forma dari filsafat.

III. Metode Filsafat

Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan dari kenyataan. Untuk mendapatkan hal tersebut, filsafat memiliki beberapa metode penalaran. Pertama, metode penalaran deduksi. Secara sederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifat umum kepada yang khusus. Dalam pengertiannya yang lebih spesifik, ia adalah proses berpikir yang bertolak dari prinsip-prinsip, hukum-hukum, putusan-putusan yang berlaku umum untuk suatu hal/ gejala atau prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus yang merupakan bagian hal/ gejala umum.. Secara sederhana, deduksi dapat dicontohkan sbb:

Semua manusia adalah fana
Presiden adalah manusia
Presiden adalah fana
Selain deduksi, filsafat juga menggunakan metode penalaran induksi. Secara sederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifat khusus kepada yang umum. Ia adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena/ gejala individual untuk menurunkan suatu kesimpulan yang berlaku umum. Secara sederhana, metode ini dapat dicontohkan sbb:

Amin adalah murid sekolah dasar
Amin adalah manusia
Semua murid sekolah dasar adalah manusia

Metode ketiga yang dimiliki filsafat adalah metode penalaran dialektika. Secara umum, metode ini dapat dipahami sebagai cara berpikir yang dalam usahanya memperoleh kesimpulan bersandar pada tiga hal, yakni: tesis, antitesis dan sintetis yang merupakan hasil gabungan dari tesis dan antitesis. Contoh sederhana untuk metode penalaran ini adalah Keluarga. Dalam satu keluarga biasanya terdapat ayah, ibu, dan anak. Jika ayah adalah tesis, maka ibu adalah antitesis, lantas anak merupakan sintesis karena keberadaannya ditentukan ayah dan ibu. Begitu juga apabila ibu adalah tesis, maka ayah adalah antitesis, dan anak adalah sintesis.

IV. Peranan dan Tujuan Filsafat

Tadi telah dipaparkan bahwa filsafat merupakan suatu upaya berpikir yang jelas dan terang tentang seluruh kenyataan. Upaya ini, bagi manusia, menghasilkan beberapa peranan. Pertama, filsafat berperan sebagai pendobrak. Artinya, bahwa filsafat mendobrak keterkungkungan pikiran manusia. Dengan mempelajari dan mendalami filsafat, manusia dapat menghancurkan kebekuan, kebakuan, bahkan keterkungkungan pikirannya dengan kembali mempertanyakan segala.

Pendobrakan ini membuat manusia bebas dari kebekuan, kebakuan, dan keterkungkungan. Jadi, bagi manusia, filsafat juga memiliki peranan sebagai pembebas pikiran manusia. Maka, pembebas merupakan peranan kedua yang dimiliki filsafat bagi manusia.

Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih jauh, lebih mendalam, lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa mendapatkan kejelasan dan keterangan atas seluruh kenyataan. Jadi, peranan ketiga yang dimiliki oleh filsafat bagi manusia adalah sebagai pembimbing.

Selain memiliki peranan bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmu pengetahuan umumnya. Menurut Descartes (1596-1650), filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia. Ia, merujuk pada Kant (1724-1804), adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Jadi, merujuk pada dua penrnyataan tersebut, dapat dapat disimpulkan bahwa bagi ilmu pengetahuan, filsafat, memiliki peranan sebagai penghimpun pengetahuan.

Memahami perannya sebagai penghimpun, maka filsafat dapat dikatakan merupakan induk segala ilmu pengetahuan atau mater scientiarum. Bagi Bacon (1561-1626, filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu. Ia menangani semua pengetahuan.

Selain sebagai induk yang menghimpun semua pengetahuan, bagi ilmu pengetahuan filsafat juga memiliki peranan lain, yakni sebagai pembantu ilmu pengetahun.

Bagi Bertrand Russell (1872-1970), filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki kemungkinan untuk menyerang keduanya. Karena terdapat kemungkinan ini dalam filsafat, maka, menurutnya, filsafat dapat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan kehidupan sehari-hari, dan mencarisuatu ketidakselarasan yang dapat terkandung di dalam asas-asas tersebut. Secara sederhana, paparan Bertrand Russell tersebut dapat dipahami bahwa bagi pengetahuan, filsafat juga memiliki peranan sebagai pembantu pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Schlick, seorang filsuf Wina, pernah menyatakan bahwa tugas ilmu adalah untuk mencapai pengetahuan tentang realitas; dan pencapaian ilmu yang sebenarnya tidak pernah dapat dihancurkan atau diubah oleh filsafat, tapi filsafat dapat menafsirkan pencapaian-pencapaian tersebut secara benar, dan untuk menunjukkan maknanya yang terdalam.

Dalam menjalankan peranannya tersebut, filsafat memiliki tujuan. Menurut Plato, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Jadi secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran. Dengan harapan kebenaran ini dapat membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak. Tapi, janganlah dianggap bahwa kebenaran yang berusaha diraih filsafat adalah sama dengan kebenaran yang diraih agama.

Tidak seperti agama yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan, filsafat menyandarkan diri dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis. Kondisi berpikir kritis ini sering tampil dalam perilaku meragukan, mempertanyakan, dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Kebenaran yang oleh agama wajib diterima, dalam filsafat senantiasa diragukan, dipertanyakan dan dibongkar sampai ke akar-akarnya untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang lebih masuk akal. Maka, tak heran, apabila kebenaran yang ditawarkan filsafat dipahami sebagai kebenaran yang logis.

ANTONIM

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?

Apakah

Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas

terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini,

"Apakah

Tuhan menciptakan segala yang ada?".



Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan

semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya,

Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.



Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti

Tuhan

menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip

kita

bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi

bahwa

Tuhan itu adalah kejahatan."



Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor

tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia

telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.



Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya

bertanya

sesuatu?"



"Tentu saja," jawab si Profesor



Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"



"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak

pernah

sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.



Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.

Menurut

hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu

-460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi

diam

dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata

dingin

untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.



Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"



Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."



Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga

tidak

ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita

pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk

memecahkan

cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang

gelombang

setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu

ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.

Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."



Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"



Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah

kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak

perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara

tersebut

adalah manifestasi dari kejahatan."



Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda

salah,

Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.

Seperti

dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk

mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan.

Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.

Seperti

dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari

ketiadaan

cahaya."



Profesor itu terdiam.