Mungkinkah Masih Ada Waktu Yang Tersisa Untuk KU, Mungkinkah Masih Ada SULUNG di Hapemu...

Kamis, 28 November 2013

PENTINGKAH SEKOLAH..???????

PENTINGKAH SEKOLAH??? (By: Deddy Corbuzier)

Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah tersebut, karna setelah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas disampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih pro ke murid daripada ke sekolah tersebut.

Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini ke anda supaya anda dapat mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman suara saya.

Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, “penting”. Ok?
Jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampe ke sana larinya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu penting,, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah; terutama, di Indonesia.

Mengapa?

Begini saja... Anda pasti tau bahwa banyak sekali anak2 yang jelek nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja, menjadi pegawai biasa. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Karna masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah?
Menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi guru.

Jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainnya.
Anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, guru matematika. Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau nilainya jelek.. Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa olahraga dengan nilai baik.



Lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua nilainya baik. Aneh kan???
Kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua murid harus menguasai semua mata pelajaran.

Ya, mungkin untuk dasar, katanya.
Tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang diberikan pada saat dia kecil. Iya tidak???



Karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala hal, begitu juga murid2.
Murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik. Banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika dewasa.

Contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal tersebut.
Atau, menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota, yang sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali.


Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut. Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya lupa, guru akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek.
“Kalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi orang sukses.”
O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang bekerja pada saya. Itu adalah fakta..


Sekarang, begini sajalah, apa sih yang harus dirubah? Sekolahnya?

Mungkin sistemnya.
Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. Lalu kita bagi kelasnya. Kalau anak tersebut suka matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak.


Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka, harus bisa dan harus hafal. Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan.



Kenapa?
Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal.
Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik, tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah, menghafal peta buta, dan sebagainya.Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai.

Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD, anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar anaknya.

Lalu bagaimana merubah itu semua???
Memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. Butuh tahunan untuk merubah itu.
Saya harap satu saat bisa. Tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini orangtua, dengarkan ini baik2.
Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja.


Kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil nanti kedepanya.
Bagaimana caranya?

Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa yang harus di lesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru matematika untuk memberi les tambahan matematika?
Tidak perlu kan? Kenapa tidak dilesi sesuatu yang memang anak itu suka! Kalau anak saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus, saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah mulai dikembangkan sejak kecil.Bukan memaksakan hal yang memang mereka tidak suka.

Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas.

Ya, kalo pelajaran2 seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu sepuluh.

ingat! nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda, nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda rengking satu di kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika anda dewasa, sama sekali tidak berhubungan menurut saya.


Kuncinya adalah orangtua di sini. Orangtua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung pelajaran yang baik...
Jangan memaksakan terhadap anak dari yang asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau sepuluh, tidak penting!

Tidak perlu takut untuk mendapatkan nilai jelek!
Tidak perlu takut untuk tidak naik kelas!
Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur!

Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas, justru itu yang hancur masa depannya.
Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali.
Orangtua saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa seperti itu.

Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka.

Ingat sekali lagi bahwa,

Masa depan anda tidak tergantung pada pintar tidaknya anda di sekolah
Masa depan anda tidak tergantung pada anda naik kelas atau tidak naik kelas
Masa depan anda juga tidak tergantung dari nilai rapor anda.
Masa depan anda sebenarnya tergantung pada kemampuan anda bersosialisasi,
Masa depan anda tergantung pada cara dan sikap anda dalam menambah pengetahuan anda setiap harinya dari mana saja. Dari majalah, dari internet, bari buku, dari cerita dari pengalaman2 orang, dari mana saja yang anda sukai.

Saya punya teman yang waktu kecilnya dikenal jelek karna suka main game, dan sekarang, dia menjadi pemilik toko game terbesar di Indonesia. Kaya raya.

Masa depan anda, tidak tergantung dari nilai sekolah anda.
Masa depan anda, ada di tangan anda.
Jangan takut untuk mendapatkan merah di sekolah anda.
Kadang2, merah artinya sukses, untuk masa depan anda.

(Saya Deddy Corbuzier)

Jumat, 22 November 2013

Hegemoni Ilmu Pengetahuan

NOTULENSI DISKUSI I
JUDUL : Hegemoni Ilmu Pengetahuan (tulisan Prof. Hariadi
Kartodihardjo dalam buku KEMBALI KE JALAN LURUS Kritik
Penggunaan Ilmu dan Praktek Kehutanan Indonesia)
Moderator : Nardi Norman Najib
MC : Erfanda irawan
Notulensi : Dyah Ayu Putri P.
Pengantar : Mutiono
“Hegemoni Ilmu Pengetahuan”
Selama ini yang sering kita dengar dan kita mengerti adalah Ilmu pengetahuan disebut Pelita Kehidupan, dimana ilmu sangat penting untuk kepentingan manusia dalam menjalani kehidupannya sehingga orang jarang sekali ada yang mencoba mengkritik ilmu. Hegemoni sendiri adalah frame atau kerangka yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang sudah ditentukan sama seperti halnya hipnotis. Hegemoni sendiri berasal dari kata Yunani yaitu hegeisthai yang artinya menguasai, bahwa kekuasaan yang dilakukan untuk menguasai rakyat agar patuh kepada penguasa dan melaksanakan sesuatu sesuai yang sudah ditentukan oleh penguasa. Hal inilah yang kemudian merasuk pada pengelolaan kehutanan selama ini bahwa pengelolaan hutan dilakukan dengan hal-hal yang sudah ditentukan yang nyata-nyatanya terus menerus membuat hutan kita rusak namun masih dianut saja. Seperti pepatah dari Mahatma Gandhi “Kesalahan tidak menjadi kebenaran karena propagandha yang berulang-ulang, namun kebenaran tidak menjadi kesalahan jika tidak ada yang melihatnya”. Penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki harusnya bisa dijadikan sebagai indicator berhasil atau tidaknya pengelolaan hutan. Namun selama ini belum ada kritikan terhadap ilmu pengetahuan kehutanan yang sudah didapatkan yang nyata-nyata selama 40 tahun terakhir terus membuat hutan alam kita berkurang drastis. Budaya menggugat ilmu pengetahuan ini jarang sekali ditanamkan kepada masyarakat.
Ada beberapa factor tentang penguasaan ilmu pengetahuan, yaitu :
Ilmu dianggap netral.
Ilmu dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, dimana ilmu tersebut tidak berpihak kepada apapun dan hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang. Padahal jika kita coba telisik lagi sebagai contoh penggunaan teknologi pemanenan. Sepertinya teknik ini sudah hal yang pasti dan benar, namun apakah ilmu ini netral?bisakah semua orang menggunakannya?ataukah hanya orang yang bermodal besar saja yang bisa menggunakannya?inilah yang kemudian kita perlu menggugat kenetrala ilmu. Siapa yang bisa menggunakan ilmu-ilmu yang ada??
Ilmu banyak diwujudkan dalam bentuk “narasi kebijakan”.
Narasi kebijakan ini dapat berwujud isu, tulisan dll. Yang bisa saja dipakai oleh para pemegang kepentingan untuk menyalurkan otoritas mereka. Orang yang memiliki kekuasaan atau dipercaya memiliki ilmu, bisa saja memihak dengan menggunkan ilmu tersebut. Contoh gampang adalah peraturan perundangan. Peraturan perundangan kita banyak sekali namun yang bisa memahami dengan baik dan menggunakannya adalah para pengusaha dan penguasa, sedang masyarakat?bahkan tidak paham dan tidak tahu sama sekali makna dari peraturan perundangan yang ada. Izin2 HKm, HD, HTR disamakan dengan izin2 skala besar, apakah ini adil dan netral?masyarakat yang tidak paham administrasi, tulis menulis, akses, dll harus mengurus izin sama dengan para pengusaha skala besar yang dapat melakukan itu dengan mudah. Makanya pengelolaan hutan skala rakyat yang dicanangkan oleh pemerintah tak berkembang dengan baik.
Sumber ilmu pengetahuan bersifat baku dan kaku.
Pada kondisi ini ilmu dirasa lebih kaku dan harus diiikuti, orang akan mengikuti darimana ilmu itu diperoleh. Bahkan orang yang kemudian tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di mana dia menuntut ilmu akan dianggap sebagai penghianat. Orang yang berasal dari teknik maka akan cenderung menyelesaikan masalah yang ada dari ilmu teknik yang dia pelajari.
Terlalu focus pada ilmu yang sudah didapatkan.
Artinya pihak yang sudah memilikui ilmu pengetahuan cenderung tidak mencari ilmu lainnya. Padahal menyelesaikan permasalahan tidak bisa dilakukan secara sendiri2 namun dengan berbagai transdisiplin ilmu jadi tidak cukup kehutanan diselesaikan dengan satu ilmu saja, silvikulturkah saja, konservasikah saja, manajemenkah saja, teknologikah saja, namun harus semuanya digunakan dalam memandang permasalahan (holistik)
Dari keempat factor tersebut dalam diskusi yang dilaksanakan ada beberapa tanggapan dengan apa yang sudah dituliskan tersebut. Ada beberapa keadaan memperlihatkan bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah tidak bisa dengan satu ilmu pengetahuan saja. Ilmu memang tidak seluruhnya benar, penting bahwa harus mempelajari ilmu pengetahuan yang lain untuk mendukung ilmu yang sudah didapatkan. Ada tanggapan bahwa ilmu merupakan pengakuan yang tergantung terhadap kesepakatan yang sudah dibangun jika memang tidak ada yang menggugat. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh manusia supaya dapat menggugat ilmu yang sudah ada dan tidak berpikir secara linier saja tetapi berpikir secara lateral. Seperti yang terjadi pada rimbawan masa kini bahwa masih banyak yang tidak berani menggugat ilmu serta masih terlalu terpatok pada ilmu yang dimiliki seseorang. Contohnya, Dosen yang sudah professional membuat para mahasiswa terpaku dan seakan memaksakan ilmu yang sudah dimilikinya adalah yang benar. Hal ini bisa dikatakan bahwa mahasiswa telah terhegemoni dengan dosen tersebut.
Berdampak pada pola pikir mahasiswa tentang ilmu untuk berkembang. Bahaya jika ilmu tersebut digunakan untuk penguasaan atau untuk mendapatkan kekuasaan karena merasa bahwa sudah memiliki ilmu yang tinggi. Orang yang berilmu akan cenderung merasa lebih bisa, nah level selanjutnya dari penyalahgunaan ilmu adalah ketika dia mencoba meguasai dan mengendalikan orang lain dengan ilmu yang dia miliki, mencoba meminta orang lain untuk menyelesaikan masalah dengan ilmu yang dia miliki tanpa memperhatikan aspek lain dan ilmu yang lain. Ada tanggapan bahwa dalam hal ini tergantung bagaimana cara menempatkan ilmu pengethauan dan yang mengolah ilmu pengetahauan tersebut atau mengkajinya sektor-sektor yang lain.
Dapat dilihat saat penetapan kebijakan dalam pemerintahan (Kemenhut), jika penguasa tidak mempunyai ilmu yang holistik, maka akan dapat terhegemoni oleh ilmu para staf ahli yang memiliki ilmu dan percaya saja dengan apa yang disampaikan oleh para staf ahlinya. dalam hal ini, hegemoni ilmu pengetahuan dapat berjalan dengan kondisi tersebut.
Ada pertanyaan lain tentang ilmu pengetahuan yang baku misalkan rumus yang sudah dibuat dari dahulu. Ketika rumus dibuat mengalami proses yang panjang dan tidak mudah. Namun dari waktu ke waktu rumus ini sebenarnya mengalami perubahan. Kita boleh menggunnakan rumus lain dengan teknik yang berbeda to, namun hasil yang diperoleh juga sama dengan jika kita menggunakan rumus tersebut. Itulah hegemoni, jika kita dipaksakan harus menggunakan rumus yang sama. Padahal kita bisa menggunakan rumus yang lain dengan hasil yang sama.
Dari hasil diskusi kali ini diperoleh bahwa sebelum menggugat pelajari dan lakukanlah serta gunakan pikiranmu untuk menemukan keyakinanmu. Tentang hegemoni ilmu pengetahuan ini memang tergantung pola pikir yang ada pada pribadi masing-masing. Serta jangan hanya puas dengan ilmu yang sudah diperoleh karena ilmu itu dinamis. Masalah kehutanan tidaklah bisa diselesaikan dengan satu bidang ilmu saja. Syarat harus ada ilmu silvikultur, ada ilmu pemanenan, ada ilmu manajemen, ada ilmu konservasi, namun belum cukup itu untuk menyelesaikan masalah kehutanan sehingga transdisiplin ilmu/memandang secara holistik sangat penting. Janganlah egosektoral ilmu dengan memastikan ilmu saya yang paling baik dan paling benar. Karna niscaya itulah yang menyumbang kerusakan hutan kita.
~SEKIAN~

Senin, 04 November 2013

Birthday Case

http://www.youtube.com/v/hSxn9h-icRU?autohide=1&version=3&showinfo=1&attribution_tag=JAi5coBqmDXqQlqE7gQTbA&autohide=1&feature=share&autoplay=1